Menerka Alur Berpikir Manajemen El Barca

Runyam. Inilah satu kata yang mendeskripsikan secara gamblang, bagaimana kondisi lini depan Barcelona di paruh kedua musim 2019/2020. Penyebabnya, stok pemain di lini depan Blaugrana menipis. Kok dapat?

Penyebab pertama yaitu cedera parah. Mulanya, problem ini cuma diderita Luis Suarez. Dampak cedera lutut yang dideritanya, penyerang andalan Timnas Uruguay itu patut menepi selama empat bulan. Tentunya ini menjadi satu kerugian besar buat El Barca, sebab Suarez yaitu pemain kunci di lini depan regu.

Cederanya El Pistolero membikin nama Ousmane Dembele berkesempatan masuk ke regu inti. Kebetulan, penyerang asal Prancis ini belum lama sembuh dari cedera betis. Melainkan, untung tidak bisa diraih, malang tidak bisa ditolak, Dembele terpaksa patut kembali masuk ke ruang perawatan, sesudah dirinya kembali mengalami cedera robek otot betis, yang lebih parah dari cedera sebelumnya, sebab tingkat keparahan cedera robek otot hampir sama dengan patah tulang.

Alhasil, Dembele terpaksa patut kembali bolos, kali ini selama enam bulan. Kesudahannya, musim ini selesai lebih pesat buat Dembele. Praktis, lini depan Barca cuma tinggal menyisakan Lionel Messi, Antoine Griezmann, dan Ansu Fati, penyerang muda bertalenta lulusan akademi La Masia.

Hakekatnya, Barca masih punya dua penyerang muda lain di regu, merupakan Carles Perez dan Abel Ruiz. Seperti Ansu Fati, keduanya yaitu pemain lulusan akademi La Masia.

Melainkan, entah mengapa, manajemen Los Cules justru meminjamkan mereka ke klub lain hingga akhir musim ini. Carles Perez dipinjamkan ke AS Roma (Italia) sementara Abel Ruiz dipinjamkan ke SC Braga (Portugal).

Memang, mereka sukses menggaet Fransisco Trincao (20) dari SC Braga dengan ongkos 31 juta euro, plus meminjamkan Abel Ruiz. Masalahnya, penyerang muda bertalenta asal Portugal ini baru akan sah bergabung pada 1 Juli akan datang. Jadi, Trincao bukan jawaban pas untuk krisis lini depan Blaugrana dikala ini.

Hakekatnya, manajemen Barcelona telah berupaya mendekati sebagian nama seperti Richarlison (Everton), Rodrigo (Valencia), hingga Paco Alcacer (Borussia Dortmund, sekarang di Villarreal), tetapi alhasil nihil. Apa boleh buat, tidak ada satupun penyerang baru yang mendarat di Camp Nou.

Melainkan, (kembali) cederanya Dembele membikin Barca mengajukan izin transfer darurat di luar bursa transfer terhadap RFEF (PSSI-nya Spanyol). RFEF malah membolehkan, sebab situasinya memang telah pantas tata tertib. Dengan catatan, Barca cuma boleh menjalankan diplomasi dengan sesama klub La Liga Spanyol.

Alih-alih coba mendekati kembali Rodrigo, yang notabene penyerang Timnas Spanyol, Barca justru mendekati nama-nama kurang terkenal, seperti Willian Jose (Real Sociedad) Angel Rodriguez (Getafe) Lucas Perez (Alaves) dan Roger Marti (Levante).

Seandainya bicara daya kerja keempatnya musim ini, dapat dibilang mereka cukup produktif, untuk standar klub masing-masing. Angel Rodriguez (32) mencetak 10 gol di liga, dan menolong Getafe berkompetisi di papan atas La Liga, seperti itu juga dengan Willian Jose (28), yang sejauh ini mencetak 8 gol bersama Real Sociedad, yang juga lolos ke babak semifinal Copa Del Rey.

Dua nama lain, merupakan Roger Marti (29) dan Lucas Perez (31) masing-masing mencetak 10 dan 9 gol di liga, sekalian menjadi pencetak gol terbanyak regu. Kontribusi mereka cakap menolong Levante dan Alaves aman di papan tengah klasemen sementara.

Melainkan, tanpa diduga sebelumnya, alih-alih mendatangkan salah satu dari mereka, Barca justru mendaratkan Martin Braitwaithe (28) dari Leganes, dengan ongkos 18 juta euro, Jumat (21/2). Pemain Timnas Denmark ini diikat kontrak selama empat separuh tahun, dengan klausul pelepasan senilai 300 juta euro.

Oke, kalau memperhatikan perannya di Leganes, Braitwaithe memang pemain kunci regu. Enam gol dari 2 assist yang dicetaknya ikut serta menolong Leganes menjaga cita-cita bertahan di kasta tertinggi.

Melainkan, kalau ukurannya yaitu klub sekaliber El Barca, statistik ini tentu tergolong lazim. Di sinilah status “pemain darurat” nampak sesuai disematkan pada Braitwaithe .

Seandainya memperhatikan kembali, bagaimana krisis lini depan Barca, dan sistem mereka menangani problem ini, kata “panik” dan “kacau” menjadi ilustrasi paling simpel. Terkesan sarkastik, tetapi begitulah kenyataannya.

Disebut “panik” sebab mereka terkesan “panik”, dikala patut memilih sasaran pemain incaran. Nama-nama opsi yang ada cukup banyak, tetapi mereka justru melengkapi kondisi “panik” itu dengan manuver “kacau” yang mereka buat sendiri.

Manuver “kacau” pertama, ada pada keputusan meminjamkan Carles Perez dan Abel Ruiz dikala regu terang-terang sedang kekurangan pemain depan. Padahal minim pengalaman, mereka konsisten punya potensi yang setidaknya dapat lebih dimaksimalkan, tanpa patut belanja pemain baru.

Lagipula, mereka yaitu tamatan akademi La Masia, yang selama ini jadi salah satu simbol pujian klub. Padahal masih punya Ansu Fati yang baru-baru ini mulai tampil reguler, keputusan Barca berhubungan Perez dan Abel Ruiz memberi kesan apabila mereka kurang percaya penuh dengan akademi La Masia, yang ironisnya kerap mereka banggakan, sebab pernah mencetak bintang ragam Pep Guardiola, Lionel Messi, Xavi Hernandez, dan Andres Iniesta.

“Kepanikan” dan “kekacauan” ini alhasil berpadu total, dengan terwujudnya transfer Braitwaithe, pemain yang sebelumnya tidak pernah disebut sebagai sasaran klub. Padahal berstatus”transfer darurat”, entah mengapa manajemen Barcelona justru memberinya kontrak selama empat separuh tahun.

Meski, dia terang-terang cuma akan diplot menjadi solusi rentang pendek buat regu. Itu musim ini usai, situasinya dapat jadi berubah drastis. Kecuali mengesahkan kedatangan Trincao, dapat dipastikan Barca akan berupaya memperkuat tenaga dobrak regu, dengan Neymar (PSG) dan Lautaro Martinez (Inter Milan) sebagai sasaran teratas.

Entah kebetulan atau bukan, transfer Braitwaithe seolah merepresentasikan, seberapa kompleks perjalanan Barca musim ini. Mulai dari grafik daya kerja yang naik turun, pergantian pelatih di pertengahan musim, hingga krisis lini depan. Mereka memang berhasil mendatangkan Antoine Griezmann dan Frenkie De Jong, tetapi konsisten saja tidak lepas dari gonjang-ganjing, dan keputusan tidak lazim dari manajemen klub.

Seandainya musim ini usai menjadi musim tanpa gelar buat Barca, ini yaitu buah dari musim serba kompleks dan penuh gonjang-ganjing, yang gagal ditangani secara pas oleh manajemen klub. Melainkan, kalau Dewi Fortuna membolehkan Lionel Messi dkk meraih setidaknya satu trofi musim ini, ini yaitu satu kemujuran, sebab mereka meraihnya dalam kondisi serba tidak pas.

Manuver belanja “panik” dan “kacau”Barca di musim dingin terang menjadi sebuah petunjuk tanya besar, untuk ukuran klub peraih lima gelar Liga Champions seperti Barca. Seandainya tradisi buruk ini masih terus berlanjut, kita akan lantas memperhatikan Barca yang menurun, tanpa patut menunggu Messi pensiun. Tragis!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here